pendidikan

pendidikan

Selasa, 03 Desember 2013

Validitas dalam Penilaian


BAB I
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Ketentuan penting dalam evaluasi adalah bahwa hasilnya harus sesuai dengan keadaan yang dievaluasi. Data evaluasi yang baik sesuai dengan kenyataan disebut data valid. Agar dapat diperoleh data yang valid , maka alat dan instrumennya juga harus valid. Intrumen evaluasi dapat dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur. Jadi jika tes tersebut adalah tes pencapaian hasil dan apabila di interpestasi secara intensif maka hasil yang dicapai memang benar ranah evaluasi pencapaian hasil evaluasi belajar.
Perkembangan konsep penilaian yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas. Penilaian program pendidikan atau penilaian kurikulum menyangkut penilaian terhadap tujuan pendidikan, isi program, strategi pelaksanaan program dan sarana pendidikan. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadapnkagiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru–siswa dan keterlaksanaan program belajar-mengajar. Sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajarjangka pendek dan hasil belajar jangka panjang.
Dengan demikian, inti penilaian adalah proses mamberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan kriteria tertentu. Prosespemberian nilai tersebut berlangsung, baik secara validitas maupun reliabilitas. Penulisan makalah ini akan di difokuskan pada pembahasan tentang “Validitas” agar dapat memahami apa itu validitass serta lebih memahami bagaimana mengetahui suatu alat penilaian dikatakan mempunyai kualitas yang baik.

B.                 RumusanMasalah
1.                  Apakahpengertiandarivaliditas ?
2.                  Apasajakah macam-macam dari validitas?
3.                  Apakahtujuandilakukanvaliditas?
4.                  Bagaimanacara mengetahui validitas alat ukur?
5.                  Bagaimanakahcontoh validitas butir soal atau validitas item?

C.                TujuanMasalah
1.                  Untukmengetahuipengertiandarivaliditas
2.                  Untukmengetahui macam-macam dari validitas
3.                  Untukmengetahuitujuandilakukanvaliditas
4.                  Untukmengetahui cara mengetahui validitas alat ukur
5.                  Untukmengetahuicontoh validitas butir soal atau validitas item




BAB II
PEMBAHASAN

A.                Pengertian Validitas
MenurutAzwar (1986) Validitasberasaldari kata validity yang mempunyaiartisejauhmanaketepatandankecermatansuatualatukurdalammelakukanfungsiukurnya.
Pengertian validitas menurutWalizer (1987) adalah tingkaat kesesuaian antara suatu batasan konseptual yang diberikan dengan bantuan operasional yang telah dikembangkan.
Menurut Masri Singarimbun, validitas menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur itu mengukur apa yang ingin diukur.
Suatu alat ukur disebut memiliki validitas bilamana alat ukur tersebut isinya lanyak mengukur obyek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu (Thoha, 1990). Artinya ada kesesuaian antara alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran.
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Suatu tes dikatakan valid apabila tes tersebut mengukur apa yang hendak di ukur. Tes memiliki validitas yang tinggi jika hasilnya sesuai dengan kriteria, dalam arti memiliki kesejajaran antara tes dan kriteria (Arikunto, 1999: 65).
Validitas adalah kevalidan atau ketepatan fungsi pengukuran suatu alat ukur. Bila seseorang ingin mengukur berat suatu benda, maka dia harus menggunakan timbangan. Timbangan adalah alat pengukur yang valid bila dipakai untuk mengukur berat, karena timbangan memang mengukur berat. Bila panjang sesuatu benda yang ingin diukur, maka dia harus menggunakan meteran. Meteran adalah alat pengukur yang valid bila digunakan untuk mengukur panjang, karena memang meteran mengukur panjang. Tetapi timbangan bukanlah alat pengukur yang valid bilamana digunakan untuk mengukur panjang.
MenurutAnswar (1986), Validitasberasaldari kata Validity artinyasejauhmanaketepatandankecermatansuatualatukurdalammelakukanfungsiukurnya. Didalampengertianini, ada 2 cirivaliditasyaitu :
1.                  Ketepatan
Kemampuan alat ukur tersebut mencapai tujuan pengukuran yang dikehendaki dengantepat. Contoh: suatu tes dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberi hasil pengukuran mengenai variabel A, ini dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas tinggi. Suatu tes dimaksudkan untuk mengukur variabel B akan tetapi memberikan data mengenai variabel Aatau bahkan B. Ini dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas rendah.
2.                  Kecermatan
Pengukuran tersebut dapat memberikan gambaran mengenai perbedaan yang sekecil-kecilnya diantara subjek yang satu dengan yang lain. Contoh dalam bidang pengukurana spekfisik, jika kita mengetahui berat sebuah cincin emas maka kita harus menggunakan alat penimbangan berat emas agar hasil penimbangannya valid yaitu tepat dan cermat. Sebuah alat penimbangan badan memang untuk mengukur berat akan tetapi tidak cukup cermat untuk menimbang berat emas karena perbedaan berat yang sangat kecil pada berat emas itu tidak akan terlihat pada alat ukut berat badan.
Jadi kesimpulannya, Validitas artinya menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat ukur yang benar-benar sesuai yang memiliki ciri-ciri ketepatan dan kecermatan.

B.                 Macam-macamValiditas
Validitas suatu tes dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu validitas isi, validitas konstruk, validitas konkruen dan validitas prediksi. Macam-macam validitas tersebut akan diuraikan sebagai berikut:
1.                  Validitas isi (Content Validity)
Validitas isi (Content Validity) adalah ketepatan suatu alat ukur ditinjau dari isi alat ukur tersebut. Suatu alat ukur dikatakan memiliki validitas isi apabila isi atau materi atau bahan ala tukur tersebut betul-betul merupakan bahan yang representatif  terhadap bahan pembelajaran yang diberikan. Artinya, isi alat ukur diperkirakan sesuai dengan apa yang telah diajarkan berdasarkan kurikulum.
Untuk mendapatkan validitas isi memerlukan dua spek penting, yaitu valid isi dan valid teknik sampling. Valid isi mencakup khususnya, hal-hal yang berkaitan dengan apakah item-item evaluasi menggambarkan pengukuran dalam cakupan yang ingin diukur. Sedangkan validitas teknik sampling pada umunya berkaitan dengan bagaimanakah baiknya suatu sampel tes mempresentasikan total cakupan isi (Sukardi, 2008).
Sedangkan Arikunto (1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas isi apabila mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi pelajaran yang diberikan. Oleh karena materi yang diberikan tertera dalam kurikulum maka validitas isi juga disebut validitas kurikuler.
2.                  Validitas Konstruk (Construct Validity)
Validitas konstruk (Construct Validity) berkaitang dengan konstruksi atau konsep bidang ilmu yang akan diuji validitas alat ukurnya. Validitas konstruk merujuk pada kesesuaian antara hasil alat ukur dengan kemampuan yang ingin diukur. Pembuktian adanya validitas konstruk alat ukur matematika pada dasarnya merupakan usaha untuk menunjukan bahwa skor yang dihasilkan suatu alat ukur matematika benar-benar mencerminkan konstruk yang sama dengan kemampuan yang dijadikan sasaran pengukurannya.
Suatu alat ukur matematika dikatakan memiliki validitas konstruk yang tinggi apabila hasil alat ukur sesuai dengan ciri-ciri tingkah laku yang diukur. Dengan kata lain, apabila diuraikan akan tampak keselarasan rincian kemampuan dalam butir alat ukur dengan rincian kemampuan yang akan diukur. Validitas kontruk dapat dilakukan dengan mengidentifikasi dan memasangkan butir-butir soal dengan tujuan-tujuan tertentu yang dimaksudkan untuk mengungkap tingkatan aspek kognitif tertentu pula. Seperti halnya dalam validitas isi, untuk menentukan tingkatan validitas konstruk, penyusunan butir soal dapat dilakukan dengan mendasarkan diri pada kisi-kisi alat ukur.
Sedangkan Arikunto(1997: 64) sebuah tes dikatakan memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang membangun tes tersebut mengukur setiap aspek berfikir seperti disebutkan dalam tujuan instruksional khusus. Dengan kata lain jika butir-butir soal mengukur aspek berfikir tersebut sudah sesuai dengan aspek berfikir yang menjadi tujuan instruksional.
3.                  Validitas Konkruen (Concurrent Validity)
Validitas konkruen adalah derajat dimana skor dalam suatu tes dihubungkan dengan skor lain yang telah dibuat. Tes dengan validitas konkruen biasanya diadministrasi dalam waktu yang sama atau dengan criteria valid yang sudah ada. Sering kali juga terjadi bahwa tes dibuat atau dikembangkan untuk pekerjaan yang sama seperti beberapa tes lainnya, tetapi dengan cara yang lebih mudah dan lebih cepat. Validitas konkruen ditentukan dengan membangun analisis hubungan dan perbedaan (Sukardi, 2008).
4.                  Validitas Prediksi
Validitas prediksi adalah derajat yang menunjukkan suatu tes dapat memprediksi tentang bagaimana baik seseorang akan melakukan suatu prospek  atau tugas atau pekerjaan yang direncanakan. Validitas prediksi suatu tes pada umumnya ditentukan dengan membangun hubungan antara skor tes dan beberapa ukuran keberhasilan dalam situasi tertentu yang digunakan untuk memprediksi keberhasilan, yang selanjutnya disebut sebagai predictor. Sedangkan tingkah laku yang diprediksi disebut criterion (Sukardi, 2008).
Sedangkan menurut Arikunto(1997: 66) memprediksi artinya meramal, dan meramal selalun mengenai hal yang akan datang jika sekarang belum terjadi. Sebuah tes memiliki validitas prediksi atau validitas ramalan apabila mempunyai kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

C.                Tujuan Validitas
            Mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurnya. Agar data yang diperoleh bisa relevan/sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut.



D.                Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Validitas
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes evaluasi tidak valid. Beberapa faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menurut sumbernya, yaitu faktor internal dari tes, faktor eksternal tes, dan faktor yang berasal dari siswa yang bersangkutan.
1.                  Faktor yang berasal dari dalam tes
1)                  Arahan tes yang disusun dengan makna tidak jelas sehingga dapat mengurangi validitas tes
2)                  Kata-kata yang digunakan dalam struktur instrument evaluasi, tidak terlalu sulit
3)                  Item tes dikonstruksi dengan jelas.
4)                  Tingkat kesulitan item tes tidak tepat dengan materi pembelajaran yang diterima siswa.
5)                  Waktu yang dialokasikan tidak tepat, hal ini termasuk kemungkinan terlalu kurang atau terlalu longgar.
6)                  Jumlah item terlalu sedikit sehingga tidak mewakili sampel
7)                  Jawaban masing-masing item evaluasi bisa diprediksi siswa

2.                  Faktor yang berasal dari administrasi dan skor tes.
1)                  Waktu pengerjaan tidak cukup sehingga siswa dalam memberikan jawaban dalam situasi tergesa-gesa.
2)                  Adanya kecrangan dalam tes sehingga tidak membedakan antara siswa yang belajar dengan melakukan kecurangan.
3)                  Pemberian petunjuk dari dari pengawas yang tidak dapat dilakukan pada semua siswa.
4)                  Teknik pemberian skor yang tidak konsisten.
5)                  Siswa tidak dapat memngikuti arahan yang diberikan dalam tes baku.
6)                  Adanya joki (orang lain bukan siswa) yang masuk dalam menjawab item tes yang diberikan.

3.                  Faktor yang berasal dari jawaban siswa
Seringkali terjadi bahwa interpretasi terhadap item-item tes evaluasi tidak valid, karena dipengaruhi oleh jawaban siswa dari pada interpretasi item-item pada tes evaluasi (Sukardi, 2008).

E.                 Cara mengetahuiValiditasAlatukur
            Sebuah tes dikatakan memiliki validitas jika hasilnya sesuai dengan kriterium, dalam arti memilki kesejajaran antara hasil tes tersebut dengan kriterium. Teknik yang digunakan untuk mengetahui kesejajaran adalah dengan teknik korelasi product moment yang dikemukakan oleh pearson (Arikunto, 1997). Validitas ukuran/norma/standar alat ukur matematika menunjuk pada pengertian seberpa jauh siswa yang sudah diajarkan dalam bidang matematika menunjukan kemampuan yang lebih tinggi dari dapa yang belum diajarkan. Sebagai contoh, siswa yang telah diajarkan tentang materi aljabar akan mempunyai kemampuan penguasaan terhadap materi aljabar yang lebih dari siswa yang belum diajarkan.
          Validitas ukuran dapat diuji dengan cara dua kelompok siswa diuji dengan alat ukur yang sama. Kelompok pertama telah diajarkan materi yang dialat ukurkan, sedangkan kelonpok kedua belum diajarkan materi itu. Perbedaan nilai rata-rata kedua kelompok itu diuji dengan teknik T-tes untuk mengetahui signifikansi perbedaan nilai rata-rata tersebut.
F.                 ValiditasButirSoalatauValiditas item
CARA MANUAL ANALISIS VALIDITAS Butir Soal Bentuk Objektif






1.       Validitas instrumen adalah tingkat kemampaun suatu instrumen mengukur apa yang seharusnya diukur, khususnya dalam proses pembelajaran
2.       Dari segi analisis validitas dibagi atas validitas rasional dan validitas empirik
3.       Validitas rasional terdiri atas validitas isi (content) dan validitas bangun (construct)
4.       Validitas empiris terdiri atas valditas ramalan (predictive) dan validitas bandingan (concurrent )
5.       Validitas rasional dapat dianalisis secara rasio melalui GPPP dan panel, sedangkan valitas empirik dianalisis secara statistik
6.       Validitas butir secara statistik dianalisis berdasakan jenis data yang terkumpul. Data diskrit (misalnya hasil tes obyektif) dihitung dengan korelasi point biserial sedangkan data kontinu (misalnya hasil tes uraian atau skala sikap) digunakan korelasi Pearson product – moment.

 Contoh skor butir soal objektif:
Persiapan Perhitungan Validitas (Korelasi Point Biserial):
ΣXt  = 97      ΣXt2 = 703
Nilai p = jumlah yang menjawab benar pada butir tertentu dibagi jumlah siswa (pada butir 1, misalnya,  yang menjawab benar 7 orang, berarti p = 7/ 15 = 0,47)
q =  1 – p ( pada butir 1;  q = 1 – 0,47 = 0,53)
Demikian seterusnya >>> sehingga didapatkan nilai p dan q seperti pada tabel di atas.
Menghitung rata-rata skor total:
                                                                 ΣXt               97
                                                Mt  =   -----------   =   -------   = 6,46
                                                                 N                  15

Menghitung Mp setiap butir soal (rata-rata hitung dari skor total yang dijawab dengan betul):
Contoh Pada Butir 1:
Jumlah yang menjawab betul 7 orang (siswa No. 3, 5, 11, 12, 13, 14, 15), sedangkan skor total setiap siswa adalah 5 + 8 + 8 + 9 + 8 + 7 + 12 = 57.
•    Jadi Mp =  57/7 = 8,14.

Contoh berikutnya untuk butir 10:
Jumlah yang menjawab benar juga 7 orang (siswa No. 1, 2, 5, 6, 11, 12, dan 15). Skor total setiap siswa adalah: 4 + 7 + 8 + 4 + 8 + 9 + 12 = 52
•  Jadi Mp =  52/7 = 7,43.

Ternyata meskipun yang menjawab benar pada butir tertentu sama jumahnya, tetapi Mp tidak sama, karena besarnya Mp ditentukan pula oleh skor total siswa yang menjawab benar pada butir tersebut.
Menghitung standar deviasi total dengan menggunakan rumus:

Menghitung validitas butir soal dengan rpbis (korelasi point biserial):
Makin tinggi koefisien korelasi yang dimiliki makin valid butir instrumen tersebut. Secara umum, jika koefisien korelasi sudah lebih besar dari 0,3 maka butir instrumen tersebut sudah dikategorikan valid (Weiresma and Jurs, 1990).




BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:
            Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kesahihan suatu tes. Validitas suatu tes dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu validitas isi, validitas konstruk, validitas konkruen dan validitas prediksi. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil tes evaluasi tidak valid. Beberapa faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menurut sumbernya, yaitu faktor internal dari tes, faktor eksternal tes, dan faktor yang berasal dari siswa yang bersangkutan.

Saran:
-                      Hati-hati dalam melakukan validasi dan harus sesuai dengan prosedur agar hasil yang diperoleh akurat.
-                      Pahami apa yang akan di validasi sebelumnya
-                      Jangan sampai salah memilih jenis validitas dengan data yang akan di validasi karena bisa berakibat fatal.

 DAFTAR PUSTAKA